Menu

MEMAKSIMALKAN PASAR, PERAJIN ENDEK DAN KEBAYA KREASI DITUNTUT INOVASI DESAIN

  • Senin, 12 Desember 2011
  • 683x Dilihat
MEMAKSIMALKAN PASAR, PERAJIN ENDEK DAN KEBAYA KREASI DITUNTUT INOVASI DESAIN
Belakangan ini perkembangan kain tradisional di Kota Denpasar seperti endek dan kebaya sudah mengikuti penampilan sesuai selera masyarakat. Banyaknya para perajin dan desainer yang terus berkreasi menciptakan desain barang jadi berbahan baku endek, membuat ketersediaan di pasar cukup tinggi. Untuk lebih memaksimalkan pasar, perajin harus berani menyediakan produk yang memiliki inovasi desain yang cukup tinggi sehingga pasar akan menerima secara positif. Peran pemerintah juga harus jeli dan secara berkesinambungan memberikan berbagai pendidikan dan pelatihan bagi perajin dan desainer. Pelatihan seperti meningkatkan desain yang inovatif, kreasi tinggi serta selalu diimbangi dengan kebutuhan dan selera masyarakat. Apabila hal ini dapat dilakukan, maka yakin kain tradisional akan mendapatkan simpati dari masyarakat selaku pengguna. Hal ini disampaikan Nyonya Rai Iswara, Sekretaris Kota Denpasar, yang didampingi Kepala Dinas Perindag Kota Denpasar Drs. I Wayan Gatra,M.Si. saat membuka Pelatihan Desain Dan Motif Endek Kreasi Mode Casual, Kebaya, dan Gaun Malan 2011 dalam rangka peningkatan indsutri produk lokal Kota Denpasar. Menurut dia, pengayaan desain dan motif endek sangat diperlukan. Pasalnya untuk menembus pasar harus mampu menampilkan desain yang inovatif. Sebaliknya, produk yang monoton akan ditinggalkan konsumen. Maka itu untuk meningkatkan kreativitas harus diberikan pelatihan dan pendidikan agar desainer dan perajin mampu menciptakan hasil karya yang merangsang pengguna. “Melalui pelatihan ini yang dirangkaikan dengan kegiatan Puspa Ragam Warna Kreasi Endek, Bordir dan Songket menampilkan produk unggulan Kota Denpasar dengan 100 % Indonesia. Hasil maksimal nantinya akan diharapkan mampu menggairahkan para perajin untuk terus menghasilkan produk yang berkualitas dan dapat digunakan sebagai wahana menarik masyarakat tidak ragu lagi mengenakan kain tradisional sebagai pilihan.” katanya. Sementara itu, Gatra menegaskan untuk menopang keunggulan produk kain tradisional berbagai langkah memperkenalkan sudah dilakukan secara maksimal. Mulai beberapa tahun lalu sudah secara intensif mengikuti promosi baik lokal, nasional bahkan rencananya akan langsung dilakukan promosi ke luar negeri. Selain itu even bergengsi lokal seperti Denpasar Festival sudah keempat kalinya berkreasi, dengan berbagai lomba dilaksanakan. Hal ini bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi, sehingga lama kelamaan keberadaan kain tradisional dapat digunakan sebagai kebutuhan pokok bagi masyarakat. “Saat ini sudah banyak masyarakat memakai pakaian jadi berbahan endek, kebaya bordir dan lainnya. Apalagi dengan kreativitas para desainer dan perajin mampu merangsang minat konsumen sebagai pengguna setia”, terangnya. Salah satu instruktur, Tude Togog menjelaskan, selama ini kain tradisional memang baru diminati masyarakat golongan tertentu saja. Bahkan penggunaan kain tradisional digunakan sebagai kategori ekonomi masyarakat. Misalkan, bagi masyarakat yang menggunakan pakaian berbahan endek maka dikategorikan ekonomi menengah ke atas. “Tapi belakangan ini kondisi seperti itu tidak berlaku, banyak masyarakat di semua holongan ekonomi sudah menggunakan pakaian jadi berbahan kain tradisional. Bahkan sekarang pegawai swasta dan sekolah sudah mulai ikut berperan menggunakan pakaian endek.” ujarnya. Ia mengakui masalah desain dan motif sudah tinggi perkembangannya, tinggal bagaimana masyarakat itu memakainya, sehingga lebih cepat popular. (sta)