Menu

KUNCI PENGUSAHA SEJATI ADALAH BERWATAK B O S

  • Senin, 21 April 2008
  • 999x Dilihat
KUNCI PENGUSAHA SEJATI ADALAH BERWATAK B O S
Seorang pengusaha sejati harus memiliki watak B O S. Demikian disampaikan Kadis Perindag Kota Denpasar Dewa Dharendra saat menutup pelatihan kewirausahaan yang diselenggarakan dari tanggal 14 April hingga hari ini (21/04). Watak B O S yang dimaksud adalah seorang pengusaha harus memiliki watak BERANI OPTIMIS dan SEMANGAT. Berani yang dimaksudkan, seorang pengusaha harus berani tampil beda, tidak membuat apa yang sudah ada atau umum dikerjakan orang melainkan berinovasi menciptakan sesuatu yang baru. Seorang pengusaha juga harus berani bekerja keras, mempertimbangakan dan mengambil resiko serta melakukan hal-hal yang diluar kebiasaannya. Optimis yang dimaksud adalah selalu berfikir positif dalam bekerja dan semangat berarti selalu bergairah, tidak loyo dan penuh vitalitas dalam berusaha. Disampaikannya pula bahwa untuk menjadi orang sukses harus memiliki tujuan yang jelas, keyakinan yang kuat, membuka diri dan mau belajar dari yang lebih sukses dan mengambil tindakan untuk mewujudkan apa yang menjadi tujuannya. Dalam pelatihan yang diadaptasi dari Jerman tersebut peserta diajak langsung berperan serta aktif di tiap sesi pelatihan. Berbeda dengan model pelatihan pada umumnya, dalam pelatihan yang bernama Creation of Enterprises trough Formation of Entrepreneurs atau disingkat CEFE ini, model ceramah tutorial dibuat seminim mungkin. Fasilitator bertugas memberikan pancingan pada peserta dalam mengutarakan pendapat yang dimiliki terkait materi yang ada. Pelatihan yang menonjolkan manajemen usaha ini mengedepankan simulasi-simulasi dalam pelaksanaannya. Manajemen produksi, manajemen pemasaran, manajemen personalia sampai manajemen keuangan dikemas dalam simulasi permainan yang menyenangkan. Sepintas memang terlihat sepele. Untuk membahas aspek pemasaran saja, peserta ada yang diminta untuk berjualan permen dan dibeli oleh rekan-rekan yang lain dengan tingkat daya beli yang berbeda-beda. Namun esensi dari simulasi tersebut adalah bagaimana penjual menampilkan strategi pemasaran untuk menarik pembeli, dan bagi pembeli sendiri bagaimana mereka menentukan di pedagang mana mereka akan menjatuhkan pilihan. Pembahasan seputar strategi pemasaran dan faktor-faktor yang dapat menarik pembeli menjadi pembahasan yang sangat menarik. Lain lagi pembahasan aspek produksi. Peserta yang dibagi dalam kelompok-kelompok diminta membuat amplop dari kertas. Pada akhir simulasi peserta diajak berhitung tentang investasi pada alat simulasi dan bahan baku amplop untuk kemudian menentukan apakah kelompoknya laba atau justru rugi. Kecermatan seorang pengusaha dalam berinvestasi dan mengelola bahan baku termasuk proses produksi yang efisien serta pemenuhan kontrak menjadi kunci utama dalam pembahasan yang dilakukan berikutnya. Pada akhir pelatihan, dari seluruh materi yang diberikan, peserta menyusun suatu rencana usaha yang digunakan sebagai pedoman dalam pengembangan usaha serta pengajuan dana ke lembaga keuangan. Dengan adanya praktek langsung seperti simulasi yang ada, diharapkan peserta segera mempraktekkan dan merasakan bekerja dalam perhitungan-perhitungan matang. Dengan belajar sambil mengerjakan (learning by doing) diharapkan ilmu yang diperoleh dapat melekat kuat dan menjadi dasar pekerjaan sehari-hari. (up)