Menu

EKSPOR DENPASAR BERFLUKTUASI

  • Selasa, 14 September 2010
  • 846x Dilihat
EKSPOR DENPASAR BERFLUKTUASI
Sampai semester pertama tahun 2010, nilai ekspor Kota Denpasar mengalami fluktuasi. Dari pengamatan yang dilakukan berdasarkan penerbitan Surat Keterangan Asal (SKA) dokumen ekspor Dinas Perindag Propinsi Bali yang disadur oleh Dinas Perindag Kota Denpasar, pada April 2010 lalu realisasi nilai ekspor berbagai komoditi unggulan Denpasar mencapai 29.360.200,71 USD. Bulan berikutnya Mei 2010, terjadi peningkatan cukup drastis dibandingkan empat bulan sebelumnya. Realisasi nilai ekspor saat itu 31.870.218,08 USD. Pada bulan Juni terjadi penurunan 700 ribu USD menjadi 31.173.245,80 USD. Bulan Juli kembali terjadi penurunan menjadi 29.973.320,84 USD. Menurut Kadis Perindag Drs. I Wayan Gatra,M.Si. didampingi Kabid Bina Usaha I Made Saryawan dan pengolah data A.A.Sedana Etana, tren ekspor Kota Denpasar mengalami peningkatan dan penurunan. Hal ini disebabkan banyak faktor diantaranya jumlah pemesanan dari buyer ke perajin atau eksportir, masa produksi produsen, sistem pengiriman barang dan banyak hal lagi sehingga pendistribusian barang dagangan ke luar negeri tidak selalu sama. Misalkan, buyer datang pada Agustus dan langsung melakukan survey produk atau melakukan diskusi produk dengan partner di Denpasar. Kemudian akhir Agustus baru terjadi kesepakatan bersama. Dan baru para produsen memulai aktivitas pengerjaan pesanan. Sehingga kondisi pengiriman pada bulan tersebut dapat dipastikan rendah. Kecilnya nilai ekspor tapi bukan berarti produsen (perajin) tidak dapat order. Melainkan pada bulan tersebut justru sedang menerima pemesanan. Inilah terkadang salah tafsir, kalau nilai pengiriman pada bulan tertentu sudah divonis terjadi penurunan order. Ini baru satu faktor penyebabnya, banyak hal lainnya yang menyebabkan naik turunnya kegiatan ekspor Denpasar. Seperti penundaan pengiriman, biasanya dilakukan permintaan buyer karena masih menunggu proses produksi lainnya. Terkadang satu buyer ingin mengirim barangnya sekalian, agar diterima di negaranya juga sejkali tuntas. “Nah, kondisi ini juga menyebabkan berkurangnya nilai pengiriman dalam bulan tertentu”, tegas Gatra. Saryawan menjelaskan, dalam pengolahan data yang didapat dari Disperindag Bali memang terjadi peningkatan tertinggi pada periode Mei. Kemudian pada bulan lainya terjadi penurunan. Penurunan Mei ke Juni hanya 697.072,28 USD dan penurunan pada Juni ke Juli 1.199.924,96 USD. Tapi kenyataannya data tahunan realisasi nilai ekspor Kota Denpasar selalu naik, walaupun persentasenya masih rendah, berkisar 15 persen. “Perusahaan ekspor memang kebanyakan ada di Denpasar dan Gianyar, namun demikian proses produksinya lebih banyak dilakukan di daerah lainnya seperti Bangli, Tabanan, Karangasem, Klungkung dan beberapa daerah lainnya. Mengenai banyak sedikitnya jumlah produksi masing-masing daerah, tergantung eksportirnya memberikan pemesanan produksi” terangnya. Ia menjelaskan, untuk produksi ekspor biasanya eksportir lebih banyak mempercayakan kepada perajin yang ada di Kabutaten Gianyar, Bangli dan seputarannya sedangkan untuk jenis kerajian besi biasanya dikerjakan di Tabanan. Saryawan menambahkan, di Denpasar banyak produksi jenis garmen, furniture, perak atau aksesories lainnya. Bidang produksi lainnya juga cukup besar tapi merata seperti kerajinan anyaman, kayu, besi, lukisan, kerajinan kulit, rumah jadi dan lainnya. “Perusahaan di Denpasar biasanya melakukan kegiatan produksi akhir seperti finishing berbagai jenis kerajinan. Sedangkan perajin di daerah hanya memproses barang setengah jadi saja. Kondisi ini kiranya bagus untuk pemerataan pendapatan. Kegiatan ekspor tidak full dilakukan di Denpasar, cenderung hanya proses finishing saja. Sedangkan kantornya memang kebanyakan di Denpasar”, aku Saryawan. (bb/sta)